Isi Hati Setelah Lebaran: Tren Telekonsultasi Kesehatan Mental di Halodoc Melonjak dan Tak Kunjung Reda – Jakarta – Gelaran Idul Fitri 2026 baru saja usai, namun ada satu “tamu tak diundang” yang masih menghantui sebagian masyarakat: kecemasan pasca-Lebaran. Hal ini tercermin dari lonjakan signifikan konsultasi kesehatan mental di platform kesehatan digital Halodoc yang terjadi sejak menjelang Lebaran hingga saat ini, bahkan melampaui prediksi awal bahwa tren tersebut hanya bersifat musiman .
Tren yang Tak Terduga: Bukan Sekadar “Seasonal”
Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, mengungkapkan bahwa pihaknya awalnya menduga peningkatan konsultasi ini hanya efek musiman Ramadan atau Lebaran. Namun faktanya, angka tersebut terus merangkak naik secara konsisten.
“Semenjak dua minggu sebelum Lebaran tahun ini, kita melihat ada peningkatan. Awalnya kami kira ini hanya seasonal, tapi ternyata tidak demikian. Jadi tetap naik terus sejak itu, sampai dengan sekarang masih naik terus,” ujar Fibriyani dalam acara Media Gathering di Jakarta, Senin (27/5) .
Menurutnya, fakta ini menunjukkan adanya kekhawatiran nyata di masyarakat mahjong ways yang semakin membesar seiring waktu. Masyarakat tidak hanya lelah secara fisik setelah sebulan penuh berpuasa dan mempersiapkan mudik, tetapi juga mengalami tekanan mental yang signifikan.
Gen Z Paling Rentan, Waktu Konsultasi hingga Dini Hari
Siapa yang paling banyak menggunakan layanan konsultasi jiwa ini? Data Halodoc menunjukkan bahwa generasi muda, terutama Gen Z, mendominasi angka konsultasi terkait isu psikologis. Kelompok milenial menyusul di posisi kedua, sementara generasi X tercatat paling kecil karena isu kesehatan mental dinilai belum terlalu umum dibicarakan oleh kelompok usia lebih tua .
Yang menarik, konsultasi kesehatan mental ini paling banyak terjadi pada jam-jam yang tidak biasa. Puncaknya terjadi pada pukul 10 malam hingga 2 dini hari. Fenomena ini menggambarkan bahwa kegelisahan dan kecemasan seringkali muncul saat seseorang sedang sendirian di malam hari, ketika pikiran mulai berkontraksi tanpa ada distraksi aktivitas padat di siang hari .
Pemicu Utama: Keluarga dan Tekanan Sosial
Apa sebenarnya yang membuat masyarakat begitu cemas menjelang dan setelah Lebaran? Berdasarkan laporan Indonesia Health Insights Q1 2026 dari Halodoc, terdapat faktor dominan yang memicu lonjakan kecemasan ini.
Data menunjukkan bahwa 58 persen pemicu kecemasan berasal dari konflik atau tekanan dalam keluarga. Tekanan tersebut meliputi ekspektasi tinggi tentang pernikahan, kondisi ekonomi, pencapaian anak, hingga dinamika hubungan antar anggota keluarga yang seringkali memanas saat berkumpul di momen hari raya .
Selain itu, kelelahan fisik yang terakumulasi selama tiga minggu puasa serta tekanan sosial terkait gaya hidup dan penampilan saat bersilaturahmi juga menjadi kontributor besar meningkatnya rasa gelisah .
Keluhan yang paling sering muncul antara lain gangguan tidur, rasa cemas berlebihan, jantung berdebar, hingga sesak napas .
Inovasi AI: Jembatan Bagi Mereka yang Malu Bicara
Salah satu temuan paling menarik dari tren ini adalah preferensi pengguna terhadap teknologi. Halodoc menemukan kecenderungan bahwa pengguna lebih terbuka menceritakan masalah mentalnya kepada asisten digital berbasis AI bernama HILDA (Halodoc Intelligence Digital Assistant) dibandingkan langsung ke psikolog manusia .
“Kalau kita lihat yang juga cukup menarik adalah ada kasus-kasus di mana manusia bonus new member lebih terbuka dengan HILDA atau dengan AI dibandingkan langsung dengan manusia untuk tahap awalnya,” kata Fibriyani .
Para pengguna kerap menyampaikan keluhan mendalam seperti perasaan depresi hingga “pikiran yang terasa bising” tanpa rasa takut dihakimi. HILDA dirancang untuk memberikan respons empatik sekaligus mengarahkan pengguna ke layanan yang tepat, seperti psikolog atau psikiater, jika diperlukan .
Keterkaitan Fisik dan Mental: Saat Stres Menyerang Lambung
Dokter Spesialis Penyakit Dalam mitra Halodoc, dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, menjelaskan bahwa lonjakan keluhan mental ini tidak bisa dipisahkan dari kondisi fisik. Hormon kortisol yang meningkat drastis saat seseorang stres dapat memicu peningkatan produksi asam lambung .
Hal ini menjelaskan mengapa gangguan pencernaan seperti maag dan GERD juga kerap melonjak di momen Lebaran selain karena faktor makanan. Stres menjelang Lebaran yang tidak dikelola dengan baik bisa berakhir dengan sakit maag di hari raya .